Rabu, 24 Desember 2008

Ngantuk Tiada Tara

Entah sudah berapa liter air putih yang kutenggak untuk menormalkan tubuhku yang terasa ‘melayang’ hari ini…

Pulang kerja jam 9 malam, semangat sekali aku untuk langsung tidur ‘membayar’ ngantuk seharian kemarin. Tiba dirumah Mamaku tercinta sedang asik menggunakan kalkulator menjumlahkan sesuatu dari lembaran putih yang berserakan di meja makan (well, dia memang senang melakukan apapun disana). Menyapanya sebentar langsung pergi mandi…Begitu hendak kembali ke kamar tiba-tiba dia bertanya, “Teh, bisa bantuin Mamah nggak nanti?”. “Nanti kapan Mam?”, aku bertanya balik. “Ya nanti kalau Teteh udah makan sama nggak terlalu cape lagi”, ujarnya sambil merapatkan jaket woll favoritnya (malam itu dingin memang cukup menusuk tulang). Fiuuuh…aku menghela nafas panjang…tinggal beberapa langkah lagi padahal menuju kasur dan selimut kesayanganku…tapi melihat wajah letih dan mata mengantuk dibalik kacamata plusnya itu membuatku tak akan pernah tega membiarkannya mendapatkan jawaban “Teteh ngantuk banget Mah!”. Apa lagi yang bisa kukatakan selain, “Iya, tapi Teteh makan dulu ya!”. Ia tersenyum (mungkin lega karena bebannya terbagi)…ah Tuhan, apa yang paling membahagiakan selain membuat Mama tersenyum?

Aku pikir siapapun yang memiliki orang tua berstatus GURU pasti pernah kebagian ‘tugas rutin’ setiap akhir semester anak sekolah : Mengisi Raport!

Aku selalu melakukannya sejak Mama menilai aku ‘mampu’ diberi tanggung jawab semacam itu…sejak SMA seingatku. Bedanya, dulu aku sering mengeluh untuk itu..tapi sekarang setelah aku semakin dewasa…aku semakin menghargai apapun yang dia minta dariku.

Hampir ¾ hidupnya dia habiskan dengan mengabdi menjadi seorang guru…bahkan lebih lama dari umur Kakakku sekalipun,…mungkin sekitar 31 tahun. Dia yakin bahwa hidupnya akan sempurna jika ilmu yang dia miliki dapat dibagikan pada orang lain…Dia selalu bangga akan profesinya, aku bisa melihat matanya berbinar setiap menceritakan pengalamannya mengajar berbagai macam murid di bebeberapa sekolah yang berbeda. Sebagai catatan, dia tidak pernah mengajar di sekolah yang strata ekonomi muridnya ada di kelas menengah ke atas. Dia sering kebingungan saat murid-muridnya tidak mampu membayar 5 ribu rupiah untuk peralatan kerajinan standar sedangkan Diknas mengharuskan sekolah mengadakan mata pelajaran Keterampilan. Hebatnya, dia selalu mempunyai jalan keluar yang sangat meringankan beban financial orang tua para murid. Aku masih ingat dia sampai pernah menampung salah seorang muridnya yang sangat pintar tapi tidak mampu melanjutkan sekolah di rumah kami sampai ia menyelesaikan jenjang SMP-nya. “Menanam kebaikan nggak akan pernah ngerugiin, Teh!” saat aku ‘protes’ karena aku tahu seberapa besar gajinya saat itu (Gaji Guru SD dengan 3 orang anak yang masih sekolah?!!)

Jam 2 malam…akhirnya beres juga semuanya! Aku bertanya apa masih ada yang bisa kubantu, karena kulihat dia masih berkutat dengan lebaran-lembaran putih itu. “Udah kok, Teteh tidur aja.”, ujarnya sambil menguap. Aku pun beranjak menuju kamarku…baru dua langkah, dari belakang aku mendengarnya mengucapkan “Makasih!”………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..Ah Tuhanku…aku tak sanggup membalikkan badan untuk melihat wajahnya karena entah kenapa satu kata itu mampu membuatku ingin menangis. “U don’t have to say it, Mum! U really not supposed to do!”. Bagaimana mungkin aku layak mendapatkan ucapan terima kasih untuk hal sekecil itu dari perempuan yang telah melakukan segala hal dan memberikan hidupnya untukku?.....

Dan aku pun tertidur nyenyak semalaman…walaupun hanya 3 jam saja! (well, aku tidak bekerja di perusahaan nenekku kan!)

Ngantuk lagi…”melayang” malah rasanya tubuhku…Hari ini sudah kubulatkan lagi tekadku dan tidak ada yang boleh menghalanginya lagi…Aku harus tidur awal nanti malam! No lembur! No Mampir2! No Anything!

“Yang nggak ikut nonton Madagaskar 2 pulang kantor ntar, bakal dimusuhin!”. Ultimatum itu dengan semena-mena dikeluarkan oleh teman-teman sekantorku.………………………………………………………………………………………………

Terbayang lagi kasur dan selimut kesayanganku…………………………………………...

OH NOOOOO……!!!!!

3 komentar:

Miss Complain mengatakan...

Hehehe
Aku absen ga ikutan nonton,hiks hiks
jadi ngerasa ga gaol gitu...
hohho

BuNoF mengatakan...

Ah Miss Complain alias neneng Jebretz...atas dasar kemanusiaan yang nggak dimiliki oleh sapaaah gituh (hehee...sure u know what i mean!;p)...Kita ga jadi musuhin kamu...Bagaimana mungkin kita bisa musuhin orang yang harus bernyeri2 ria karna terapi SENGAT LEBAH sementara di waktu yg sama kita lg KTAWA2 ngakak nonton binatang2 kachaw ituh di bioskoph! Huahahaaaaa....udah ga ghaol, maenannya lebah pula! Watir pisan maneh eung!=D

sardutz world mengatakan...

buuu...aku jadi inget mamah nih..kadang-kadang aku suka mikirin diri sendiri dan agak kurang perhatian sama mamah..
kalo dimintain tolong suka manyunnn (tapi dibelakang mamah, ga didepannya...mau dilempar katel gw manyun-manyun di depan beliau??hehehe)
makasih bu..tulisannya membuat saya jadi lebih memahami arti seorang ibuuu di hati kita semuaaaa...
saya juga sayang banget lho sama mamahkuwwww
just wanna say i luv youuuu buat mamah..heheheeee...