Minggu, 05 April 2009

satuhariseribumakna

Hmmm…seperti ini ya prosesnya…Sebelumnya aku tidak pernah mengira ada begitu banyak kebutuhan dan begitu ribet persiapan hanya untuk sebuah acara yang bernama LAMARAN. Yang ada di benak ku selama ini, lamaran hanya sebuah moment pertemuan dua keluarga inti pasangan dan langsung ke acara tukar cincin. Lamaran Kakak ku pada perempuan pilihannya Sabtu lalu membuatku banyak tahu tentang tradisi atau proses yang selama ini tidak begitu menarik perhatianku.

Kehebohan sudah dimulai sejak pertama kali Kakak ku memberi tahu kami tentang keinginannya itu…Mamah langsung membuat list untuk Kakakku meminta restu pada sesepuh2 keluarga…Membantu Kakak membeli cincin tunangan…mempersiapkan baju yang pantas untuk kami sekeluarga…dan bertanya padaku apa yang bisa ku “sumbang” untuk hantaran berkunjung nanti (Well, sebagai adik yang sudah berpenghasilan itu rasanya sudah menjadi sebuah “keharusan” bukan?)…Satu hal yang membuatku ‘terkejut’ adalah saat Mamah menanyakan pendapatku mengenai berapa jumlah uang yang akan kami beri nanti…


Hah??!! Aku sama sekali tidak mengerti uang apa yang ia maksud…”Emang lamaran aja harus ngasih uang Mah? Bukannya nanti pas mau nikahan?”…Ia menjelaskan bahwa di adat suku kami, Sunda, sudah menjadi tradisi saat keluarga lelaki melamar, maka harus memberikan sejumlah uang tertentu kepada keluarga perempuan…dan jumlah uang yang diberikan saat lamaran harus menjadi minimal 10 kali lipat jumlahnya saat pernikahan nanti. Jadi jika saat lamaran kita membawa uang 1 juta, maka saat pernikahan kita harus membawa minimal 10 juta kepada keluarga perempuan tersebut. Sungguh itu adalah tradisi yang terlewatkan olehku selama ini…padahal aku termasuk orang yang sangat suka mempelajari tradisi. Hmm..satu pengetahuan baru!=)


Perjalanan ke tempat keluarga perempuan cukup memakan waktu…sepanjang perjalanan aku tidak berhenti bercanda dengan adik semata wayang kesayanganku…tiba2 ada sms masuk, “ Selamat kabita* ya say!=D” (*tergoda, jadi ingin karena melihat sesuatu; bahasa sunda)…Siaallll!! Salah seorang sahabat sengaja menggodaku disaat2 seperti itu…padahal setengah mati aku menepis perasaan itu seharian! Heheee!;p (FYI: Lamaran adalah impian setiap perempuan)


Acara dipegang oleh para sesepuh (aku lupa menanyakan apakah itu juga bagian dari adat atau memang para orang tua saja yang tidak cukup percaya diri!;p)…Lagi2 aku ‘terkejut’ karena acaranya sangat formil di awal (aku pikir lamaran itu suasananya sangat santai dan akrab)… Perwakilan sesepuh dari pihak perempuan membuka acara dengan inti menanyakan maksud kehadiran rombongan keluarga lelaki (dalam hati aku bergumam, “Lha kalian bikin rame2an gini mau ngapain Pak??”…Basa-basi banget ya…Kan udah direncanain dari lama!;p)…Tidak kalah “lebay”nya sesepuh dari keluarga kami menjawab pertanyaan itu dengan sebuah cerita yang dikarangnya dengan sangat jenaka (Oke juga nih si Abah!)…Walaupun semua tertawa dan membuat suasana tidak kaku, tapi aku tahu bahwa ini adalah sebuah adat yang memang ‘harus’ begini prosesnya…


Aku coba gambarkan sedikit percakapan itu ya…diucapkan dengan Bahasa Sunda Buhun yang membuat aku saja terkadang masih harus berbisik ke Mamah menanyakan artinya…

(Saat membuka acara, sesepuh keluarga perempuan)

Sesepuh keluarga perempuan : Bla...bla...blaaa…kami sangat terkejut nih karena kali ini Nak Irfan datang tidak sendiri, tapi membawa rombongan yang cukup banyak apalgi ada sesepuh2nya juga…Kami mau bertanya apa ada maksud tertentu dari kedatangan ini? Bla..bla..bla….


(Yah kira2 begitulah yah inti percakapannya..)


Sesepuh keluarga kami : Bla…bla…blaaa…Cucu kami Irfan beberapa minggu yang lalu Nampak murung…kerjaannya melamun dan mondar mandir di depan rumah…Kami pikir dia sakit…tapi sudah kami bawa ke semua dokter hebat tidak juga sembuh…Menurut berita hanya ada satu2nya obat yang akan manjur…dan adanya hanya di daerah Cibabat Cimahi…yaitu Neng Rani!...Maka dari itu kami kesini hendak menyembuhkan cucu kami dari sakitnya dengan obat yang ok itu…Bla..bla…blaaa…


(Hahahaaaa…bisa2nya si Abah menyusun cerita seperti itu untuk menjadikan acara lamaran ini menarik!;p Tapi Adikku langsung berbisik padaku, kalau nanti dia akan melamar calonnya, jangan si Abah yang ‘maju’…”Tar aku digodain kaya si Kakak lagi, malu ah!”=D)


Saat semua acara “basa-basi” selesai, sang perempuan pun diperkenankan berdampingan dengan Kakak ku. Acara tukar cincin lagi2 membuatku ‘terkejut’, karena yang memasangkan cincin bukanlah pasangannya, melainkan calon ibu mertua masing2. Jadi Mamahku memasangkan cincin ke jari manis sebelah kiri sang perempuan, dan ibu sang perempuan memasangkan cincin ke jari manis Kakakku. Hmmm…harusnya kau tidak begitu ‘terkejut’ dengan hal itu…Karena kali ini itu bukanlah tradisi, tapi lebih karena keluarga perempuan adalah keluarga yang lumayan fanatic terhadap Islam…jadi di keluarga mereka, lelaki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan…dan karena lamaran bukanlah pernikahan, maka Kakak ku dan sang perempuan belum sah menjadi muhrim.


Setelah wejangan2 dan penutup, acara ditutup dengan acara makan2 yang berlangsung sangat akrab dan santai (whuhuu..ini bagian yang paling kusuka!;p)…kami pun pulang dengan perasaan lega dan lelah. Ini hanya permulaan, awal dari sebuah acara besar beberapa bulan lagi…Aku tahu semuanya pasti akan lebih merepotkan dan melelahkan lagi…tapi apapun yang dijalankan dengan tujuan baik insyaAllah akan berjalan dengan lancar…Amien!


Selain pengetahuan baru tentang tradisi lamaran di adat Sunda, satu hal yang kudapat dari acara lamaran Kakak ku kali ini…Bahwa Mamah, sebagai ‘pusat’ restu atas segalanya benar2 menunjukkan pada kami semua komitmen yang selalu dia tanamkan pada kami anak2nya…Baginya, ia hanya punya 2 syarat utama yang mutlak harus dimiliki oleh calon2 menantunya kelak…IMAN dan AKHLAK! Ia tidak peduli dari mana asal suku atau silsilah keluarganya, tidak peduli seberapa tinggi pendidikan atau strata ekonominya, tidak peduli seberapa tampan atau cantik wajahnya…baginya tidak ada yang lebih penting selain seiman dan berakhlak baik! Mamah selalu bilang bahwa 2 hal itu yang bisa membuatnya percaya ‘menyerahkan’ anak2 yang cintainya untuk menjalani kehidupan yang baru dengan mereka…2 hal itu yang akan membuat keluarga yang anak2nya bentuk nanti berjalan dengan baik dan langgeng selamanya...dan kali ini, kami tahu tidak ada keraguan sedikitpun di hatinya mengenai calon kakak ipar ku karena 2 syarat utama itu sudah terpenuhi…


Aku belum bisa membayangkan calon menantu seperti apa yang akan kubawa ke hadapannya suatu hari nanti...Saat ini yang kupikirkan adalah apakah aku bisa menjadi calon menantu yang baik di hadapan calon mertua ku nanti?…Apakah ia akan melihatku sama seperti Mamah melihat calon kakak ipar ku itu?…Well…all I can do is just tryin to be a better trully woman day by day…dan berdoa semoga aku juga bisa memberikan Mamah calon menantu yang ‘baik’…sesuai dengan apa yang diyakininya…Amien!


Untuk Kakak ku satu2nya…Selamat ya Kak…semoga semuanya bakal berjalan dengan lancar ke pernikahan nanti…! Amien!

(Jago juga lu cari calon!;p)